Administrasi Perkantoran Notaris Dikemas Dalam Bimbingan & Konseling

Administrasi Perkantoran Notaris Dikemas Dalam Bimbingan & Konseling

Begitu Surat Keputusan (SK) pengangkatan Notaris atau PPAT diterima, Notaris maupun PPAT yang bersangkutan akan merasa gamang menangani manajemen kantornya sendiri. Materi perkuliahan selama dua tahun di pendidikan kenotariatan tidak memberikan pengetahuan tentang hal itu, sedangkan di dalam kantor, peranan yang bersangkutan bukan hanya sebagai Notaris atau PPAT yang cukup bermodalkan ilmu hukum saja, tetapi juga sebagai Manager yang mampu memenage Sumber Daya Manusia (SDM), akuntansi, perpajakan, operasional, dan administrasi perkantoran lainnya. Disamping itu, Notaris atau PPAT yang bersangkutan juga dituntut untuk memahami apa yang harus dilakukan begitu SK diterima, antara lain, apa saja yang harus dipersiapkan sebelum membuka kantor, bagaimana caranya untuk menjadi anggota INI dan IPPAT, bagaimana caranya membuat laporan bulanan Notaris ataupun laporan PPAT dan kemana saja laporan itu harus diberikan, dan hal-hal terkait lainnya.

Hal terurai di atas telah mendasari pemikiran Indonesia Notary Community (INC) untuk menggelar acara “Bimbingan & Konseling Administrasi Perkantoran Notaris Dan PPAT Dalam Teori Dan Praktek” di Jakarta, pada 30 April 2016 lalu. Bimbingan yang mengambil tempat di Hotel “Gren Alia” Jakarta Pusat itu, tidak hanya diikuti oleh para calon Notaris/PPAT dan karyawan kantor Notaris/PPAT, tetapi juga oleh Notaris/PPAT yang sudah berparaktek. Tidak kurang dari 110 peserta memadati “Ketapang Meeting Room” Hotel Gren Alia, tempat acara berlangsung, yang datang dari berbagai daerah di luar Jakarta dan pulau Jawa, yakni dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dialog narasumber dengan peserta

Dialog narasumber dengan peserta

Acara yang dikemas dalam bentuk dialog interaktif itu, lebih mirip kelas pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan adanya simulasi dan lomba menjahit akta. Tingginya antusias terhadap materi yang disuguhkan tampak jelas dari tidak beranjaknya para peserta dari tempat duduknya sejak acara dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai acara berakhir pada pukul 17.15 WIB dengan selingan istirahat sholat dan makan (ishoma) pada pertengahan acara.

Rangkaian acara terbagi dalam tiga sesi dengan menampilkan tiga pembicara yang berkompeten di bidang masing-masing, yakni sesi-I mengenai Administrasi Perkantoran PPAT yang diantarkan oleh Riwan Widyastoro, SH, sesi-II tentang Administrasi Perkantoran Notaris disampaikan oleh Liza Priandhini, SH, MKn, dan sesi-III meliputi Update-Upgrade-Upload Hukum Kenotariatan oleh Dr. Habib Adjie, SH, MHum.

Memasuki sesi-I, Riwan Widyastoro, SH yang didampingi oleh Lia Amalia, SH, MKn selaku moderator, menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang PPAT dalam memulai praktek dengan membuka kantor baru. Mulai dari papan nama, stempel, kop surat, buku-buku administrasi, tata ruang kantor, sampai ke kriteria karyawan kantor PPAT. Di akhir penyampaiannya, Riwan mengingatkan agar para PPAT, khusunya PPAT baru, jangan terbawa budaya copy-paste. Kalaupun harus dilakukan pengcopyan akta tentang hal yang sama, sebaiknya diedit dulu oleh PPAT yang bersangkutan guna menghindari adanya bagian-bagian atau hal-hal yang tidak relevan termuat dalam akta yang akan dibuat. “Jadi, jangan copy-paste, tapi copy-edit-paste,” ujarnya diiringi tepuk tangan seluruh peserta.

Lomba menjahit akta

Lomba menjahit akta

3 pemenang lomba menjahit akta

3 pemenang lomba menjahit akta

Liza Priandhini, SH, MKn yang tampil pada sesi-II dengan didampingi oleh Andria Wati Salima, SH, MKn sebagai moderator, lebih banyak berbicara tentang etika dan perilaku Notaris dalam menjalankan praktek, disamping tata kelola perkantoran yang disampaikan secara runtut dan mendetail. Menurut Notaris yang juga dosen di beberapa Fakultas Hukum ini, tata kelola dan sistim managemen perkantoran notaris mencerminkan kepribadian dan tingkat kesuksesan dari Notaris yang bersangkutan. Pada sesi ini diadakan latihan dan simulasi menjahit akta, dan pada akhir sesi diadakan lomba menjahit akta yang diikuti oleh 11 orang peserta. Simulasi diawasi secara ketat oleh para Notaris senior yang bertindak sebagai tentor, sedangkan pemenang lomba menjahit akta terpilih 3 orang peserta yang terdiri dari H. Sobir Mustakim Wibowo, SH, MKn peserta asal Semarang, Dea Friska Rusdara, SH, MKn peserta asal Bandar Lampung, dan Indrawati, SH peserta asal Mataram Lombok. Kepada ketiga pemenang, panitia menyerahkan hadiah berupa buku hasil rangkuman seminar yang pernah diadakan oleh INC.

Sesi-III yang diisi oleh Dr. Habib Adjie, SH, MHum dengan didampingi oleh Dyah Madya Ruth S.N., SH, MKn selaku moderator, menyampaikan materi tentang knowledge (pengetahuan) dan physicomotoric (perilaku aspek ketrampilan) pengelolaan kantor Notaris/PPAT. “Seluruh materi yang disampaikan dalam bimbingan dan konseling ini berkisar pada kedua aspek tersebut,” kata Habib mengawali penyampaiannya. Selanjutnya Habib menyampaikan materi seputar pembuatan akta, terutama tentang hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau sengketa. Namun sejak awal, sesi ini lebih banyak mengarah pada tanya jawab tentang permasalahan yang dapat terjadi dalam praktek baik menyangkut materi yang baru disampaikan maupun di luar muatan materi.

Sesaat sebelum acara diakhiri, indonesianotarycommunity.com sempat berbincang dengan ketiga pemenang lomba menjahit akta seputar pengadaan acara kali ini, yang dianggap dapat mewakili pendapat seluruh peserta. Menurut Mustakim Wibowo, segala pengetahuan yang didapatkannya pada acara kali ini merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk mengukuhkan motivasinya menjadi Notaris. “Saya menjadi lebih percaya diri menuju jabatan Notaris,” ujar Wibowo yang baru beberapa bulan menyelesaikan studi di program studi Magister Kenotariatan Unisula Semarang itu.

Pendapat senada dilontarkan oleh Dea Friska Rusdara yang juga baru beberapa bulan menyelesaikan studi di prodi MKn. “Saya harap acara seperti ini tidak berhenti sampai disini saja, tetapi dapat berkelanjutan secara rutin,” ujar Dea peserta asal Bandar Lampung itu. Berbeda dengan kedua calon Notaris tersebut, Indrawati, peserta dari Mataram Lombok, mengaku telah lama berpraktek sebagai Notaris. Motivasinya mengikuti bimbingan kali ini karena di daerahnya belum pernah diadakan acara serupa, “Saya juga ingin tahu apakah pengelolaan kantor yang saya lakukan selama ini sudah cukup baik, dan ternyata masih ada yang kurang,” imbuh dia. (Bima)

Klik gambar di bawah ini untuk melihat foto pilihan lainnya :

Bimbingan Administrasi Perkantoran Notaris

Share this Post: Facebook Twitter Pinterest Google Plus StumbleUpon Reddit RSS Email

Related Posts

Comments are closed.